Richard Hoggart

admin | 5 - Mar - 2008

“ … ketundukan budaya adalah lebih mudah dianut dan lebih sukar disingkirkan ketimbang ketundukan ekonomi.” R. Hoggart
Dilahirkan pada tahun 1918, tokoh dengan karya terkenalnya The Uses of Literacy (1957) ini merupakan salah satu nama yang mengisi halaman buku-buku teks dasar dalam cultural studies. Bersanding bersama R. Williams dan E. P. Thompson namanya menjadi “mantra” dalam proyek cultural studies awal yang berupaya mempertahankan budaya kelas pekerja dalam struktur sosial masyarakat Inggris, yakni. Namanya telah mapan di pintu gerbang kajian budaya yang spesialisasinya kehidupan orang-orang “sepi” ini. Tradisi ‘budaya dan masyarakat’ Hoggart-Williams-Thompson menjadi mapan dalam apa yang disebut dengan Mazhab Birmingham.

Setelah mengawali karir akademisnya sebagai tutor pendidikan di Universitas Hull, pamornya mencuat ketika sebagai dosen Sastra Inggris ia bersama Stuart Hall (l. 1932) mendirikan Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCS) di Universitas Birmingham, 1964 di Inggris. Fokus perhatian pusat kajian budaya ini terarah pada upaya menelusuri pertanyaan-pertanyaan kritis tentang konstruksi budaya, pengetahuan, bahasa, kuasa, sejarah, politik, ideologi, dan identitas. Kontribusi utama dari Mazhab Birmingham (lih. Kellner dalam McGuigan: 1997) ini adalah membawa kajian budaya memasuki tema-tema kebudayaan yang marjinal dan “hal yang kecil-kecil” seperti budaya kaum muda, fesyen, musik, budaya olah raga, atau karya-karya fiksi. Tak heran kalau sampai tahun 1990-an tema-tema BC masih tetap aktual dan menyebarkan semangat baru terhadap kajian budaya di seluruh dunia.

The Uses of Literacy, sebagai Masterpiece Hoggart, memiliki peran penting dalam upaya penelusuran karakter budaya kelas pekerja Inggris yang terpinggirkan (lih. Storey: 1993). Secara umum, buku ini terbagi menjadi dua bagian, yakni bagian ‘tatanan “lama”’, yang menggambarkan budaya kelas pekerja, kelompok sosial yang terpinggirkan, yang merupakan bagian dari masa kecil Hoggart (1930-an); dan bagian ‘menuju arah baru’, yang melukiskan bagaimana budaya kelas pekerja tradisional terancam oleh bentuk-bentuk hiburan massa(l) yang baru pada tahun 1950-an. Di satu pihak, terdapat suatu ‘budaya yang (di)hidup(i)’ oleh Hoggart sendiri, budaya yang tradisional pada tahun 1930-an. Di pihak lain, terjadi kemerosotan budaya di tahun 1950-an. Deskripsinya tentang budaya kelas pekerja tahun 1930-an, yang datanya diambil dari kenangan masa kecilnya, tentu saja tak terlepas dari nostalgia pribadi, namun sebagai data tulisannya sangatlah penting. Ia menandaskan bahwa keterangannya tentang budaya lama tersebut bukanlah memuja tradisi pedusunan yang dikonsepsikan secara kabur tapi menyajikan data tentang budaya lama yang dialaminya secara pribadi dimana jarang terdapat tulisan yang mengulasnya secara apresiatif.

Apa yang dilakukan oleh Hoggart ini tak pelak merupakan suara garang terhadap Leavisisme. Leavisisme, aliran kajian budaya yang didirikan oleh F. R. Leavis, dalam hal budaya menganut pandangan bahwa budaya adalah titik puncak peradaban dan merupakan perhatian minoritas terpelajar (Barker: 2000). F. R. Leavis menyatakan bahwa sebelum terjadinya revolusi industri, Inggris memiliki budaya rakyat umum yang otentik dan budaya minoritas elit yang terpelajar. Baginya, inilah masa keemasan ‘masyarakat organik’ dengan ‘budaya yang hidup’ dalam ‘lagu-lagu Rakyat dan tarian Rakyat’ yang kini telah hilang karena ‘standardisasi dan penurunan’ akibat adanya budaya massa(l) yang ter(di)industrialisasi. Alih-alih, tulisan Hoggart malah menentang definisi budaya yang diajukan oleh F. R. Leavis, selain juga Matthew Arnold, keduanya adalah tokoh kritis dalam naratif kajian budaya Inggris masa itu. Setidaknya, Hoggart bertentangan dengan Leavisisme dalam dua hal mendasar, yaitu bahwa budaya itu bukanlah semata konsepsi estetis dan elitis, dan, sebagai konsekuensinya, kalangan bawah pun memiliki budaya yang hidup.

Penting dicatat bahwa proyek Hoggart bukanlah menyerang kemerosotan ‘moral’ dalam kelas pekerja an sich, tapi kemerosotan dalam ‘keseriusan moral’ pada budaya yang diperuntukkan bagi kelas pekerja. Dia mengulang-ulang sejumlah kejadian-kejadian yang mengungkapkan keyakinannya akan kemampuan kelas pekerja untuk menahan banyaknya manipulasi dalam budaya massa(l). Baginya kemampuan kelas bawah ini bukanlah semata kekuatan resistensi yang pasif, tapi sesuatu yang, walaupun tidak artikulatif, positif. Kelas pekerja memiliki kemampuan alamiah yang kuat untuk menahan perubahan dengan mengadaptasikan atau mengasimilasikan apa-apa saja yang mereka inginkan dalam budaya yang baru dan mengabaikan yang lainnya.

Hoggart yakin sekali akan sumber daya kelas pekerja dalam merespon budaya massa(l) dengan tanggapan mereka yang selalu parsial karena mereka “tidak sekedar di situ” saja, tapi hidup dimana-mana, hidup secara intuitif, memiliki kebiasaannya sendiri, bersifat verbal, berpegang pada mitos, hikmah, dan ritual. Rakyat kelas pekerja, kata Hoggart, secara tradisional, atau paling tidak selama beberapa generasi, menganggap seni sebagai pelarian, sesuatu yang dinikmati tapi tidak memiliki banyak hubungan dengan persoalan kehidupan sehari-hari. Seni adalah hal yang marjinal, ‘kegembiraan’, ia adalah kehidupan ‘riil’ yang berlangsung dimana-mana. Seni adalah untuk digunakan. Karena itulah, estetika kelas pekerja, atau rakyat, sangat memperhatikan rincian-rincian yang akrab dalam kehidupan sehari-hari. Estetika model ini berselera pada budaya yang ‘tampil’ ketimbang ‘penjelajahan’. Tidak heran kalau budaya ini tidak bisa lari dari kehidupan biasa, tetapi malahan menyelaminya karena berasumsi bahwa kehidupan biasa sangatlah menarik.

Nah, hiburan massal, menurut Hoggart, justru memotong estetika yang mantap ini. Hiburan massa(l) sesungguhnya menawarkan kesenangan-kesenangan yang tak bertanggung jawab dan maya. Budaya massa(l) bersifat merusak struktur dasar budaya kelas pekerja yang lebih tua dan lebih sehat. Bagi Hoggart, budaya kelas pekerja tahun 1930-an mengungkapkan ‘kehidupan yang meluap-luap’, yang ditandai dengan kuatnya rasa kemasyarakatan. Inilah budaya yang umumnya dibuat oleh rakyat. Memang, di sini pengertian budaya populer lebih bersifat komunal dan dibikin sendiri. Hoggart demikian bersemangat mengangkat hal ini, sampai-sampai separuh dari The Uses of Literacy memuat banyak contoh-contoh hiburan yang komunal dan dibikin sendiri. Yang terpenting di sini adalah pandangannya tentang penyesuaian populer (popular appropriation) audiens yang memungut dari budaya populer (baca: budaya massa(l)) apa-apa yang sesuai dengan kepentingan mereka sendiri, dan sejauh itu, hal tersebut bagi mereka bukanlah hal yang buruk seperti yang telah mereka lakukan selama ini. Sayang, gagasan yang brilian ini tak pernah benar-benar dimanfaatkan oleh Hoggart. Agaknya hal ini tertutupi karena bayangan pesimisnya yang lebih dominan saat, pada bagian kedua dari paparannya, beralih memandang budaya populer tahun 1950-an.

Bagian kedua dari studi Hoggart memang lebih bernada sinis, merendahkan dan menghina budaya populer 1950-an. Ia tidak lagi berucap tentang estetika populer, namun mengelanai kekuatan manipulatif dari budaya massa(l). Budaya populer 1950-an sudah kehilangan kemungkinan kehidupan yang meluap-luap, ia kini sangat tipis dan nggak mutu. Kekuatan ‘budaya komersial’ ini berkembang tanpa henti berkat serangannya terhadap hal yang lama (budaya kelas pekerja tradisional) atas nama hal yang baru (‘barbarisme yang berkilau-kilau’ dari budaya massa(l)). Inilah hedonisme tanpa akal, yang dikenyangkan oleh makanan yang tipis dan bermutu rendah, yang hanya membawa pada ekses yang melemahkan. Pada titik ini, pandangan Hoggart kelihatan sejalan segenggaman dengan pemikiran teori kritis Mazhab Frankfurt.

Mazhab Frankfurt, yang terkenal dengan analisisnya atas masyarakat yang pesimistik, melihat budaya populer juga sebagai budaya yang picisan dan tercemar baik secara estetik dan politik. Ingat misalnya pandangan Horkheimer yang melihat bahwa masyarakat sekarang semakin bergerak ke arah masyarakat yang otoriter dan lantas fasistis dengan “rasio instrumental” mereka, kemudian Adorno yang juga menandaskan bahwa masyarakat kini berada dalam keadaan “negativitas total” entah dengan Industri Budaya yang menyeragamkan maupun dengan industrial genocide, pun Marcuse yang dengan dinginnya berkata tentang manusia modern sebagai manusia satu dimensi berkat rasionalitas teknologisnya. Budaya massa bagi mereka tak lain adalah budaya yang menipu (ingat esai Adorno dan Horkheimer (1979) yang judulnya “The Culture Industry – Enlightenment as Mass Deception” (Industri Budaya – Pencerahan sebagai Penipuan Massal)). Audiens menyerap makna-makna dalam produk-produk budaya dengan cara yang tanpa masalah dan tidak kritis. Dalam nada yang mirip, Hoggart menyatakan kehidupan budaya semacam itu dengan sebutan ‘negeri ajaib gula-gula’ (candy-floss wonderland) yang memuja selera, kemudian menumpulkan, dan akhirnya membunuhnya sendiri. Ironis memang.

Namun, Hoggart tidaklah terjebak pada pesimisme total. Ia masih bisa melihat dalam keremangan masih ada tanda-tanda resistensi. Ya, misalnya, walau budaya massa bisa menghasilkan lagu-lagu populer yang hebat dan dahsyat, namun, orang tak mesti menyanyikan atau mendengarkan lagu-lagu ini. Dan, nyatanya banyak juga yang memang tidak. Sementara itu pula, mereka yang menyanyikan atau mendengarkan lagu-lagu ini sering kali menjadikan lagu-lagu tersebut lebih baik ketimbang aslinya. Orang acap memaknai lagu-lagu tersebut dalam cara-cara mereka sendiri. Tak perlu heran kalau mereka sebenarnya kurang terpengaruh seperti yang tampaknya diindikasikan tingkat pembelian mereka. Lihat saja, umpamanya, dalam konteks pemaknaan ini, kasus Inul Daratista, Sang “Ratu Ngebor”, yang lebih pantas menjadi ikon dangdut, ketimbang Kristina yang dinominasikan sebagai Diva Dangdut, yang sempat menjadi tema diskusi dan perdebatan MUI dan ulama-ulama NU struktural (kurang kerjaan apa, ya?). Rakyat kita lebih bisa dan dewasa memaknai goyangan dangdut Inul. Dangdut yang bersama Inul “kembali ke khi(n)[t]tah”-nya sejak masa Ellya Kadam dulu telah memiliki kekuatan selain pada suara, kekomunikatifan, juga pada aksi goyangan panggung. Makanya, Inul maju terus dalam goyangnya, atau dalam bahasa Banjar, kada bagaduh, sebab dangdut versi rakyat dan dangdut versi MUI dan ulama-ulama NU struktural memang beda.

Tepat pada titik inilah, sebagai catatan penutup, ucapan Hoggart yang dijadikan sebagai “penerima tamu” di atas perlu diperdalam dan dipertajam sehingga ketundukan budaya—bukannya dipesimiskan—bisa berubah menjadi ruang perekamaknaan dan daya-tahan budaya. [Riza Bahtiar Tabalong]

Rujukan:

Storey, J. (1993) An Introductory Guide to Cultural Theory and Popular Culture, Edinburgh: Harvester Wheatsheaf.

Barker, C. (2000) Cultural Studies: Theory and Practice, London: Sage Publications.

Kellner, D. “Critical Theory and Cultural Studies: The Missed Articulation,” dalam McGuigan, J. (1997) Cultural Methodologies, London: Sage Publications.



Tulisan sebelumnya:
«

Tulisan sesudahnya:
»

Isi Komentar

Pencarian